Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juli 2012

10 cara penting yang dapat kamu lakukan untuk meningkatkan prestasi di sekolah


SMART PRIVATE CENTER
1. Jadilah seorang pemimpin. Latihlah rasa tanggung jawabmu.
Apabila guru meminta bantuanmu untuk mengerjakan sesuatu misalnya membersihkan kelas, jangan ragu untuk menerimanya. Ajak beberapa teman kelas dan pimpin mereka untuk membersihkan kelas bersama-sama.

2. Mendengarkan penjelasan guru dengan baik.
Jawablah setiap pertanyaan yang diajukan oleh guru apabila kamu mengetahui jawabannya. Jangan menunggu guru untuk memanggil kamu untuk menjawab pertanyaan.

3. Jangan malu untuk bertanya.
Selalu ajukan pertanyaan kepada guru apabila tidak mengerti tentang sesuatu hal.

4. Kerjakan PR dengan baik, jangan selalu mencari alasan untuk tidak mengerjakannya.
Jangan malas mengerjakan PR dengan alasan lupa atau menunda-nunda mengerjakannya. Enak kan kalau kita cepat mengerjakan PR, jadi masih punya banyak waktu untuk bermain dan nonton TV deh!

5. Setiap pulang dari sekolah, selalu mengulang pelajaran yang tadi diajarkan.
Nanti sewaktu ada ulangan jadi tidak banyak yang harus dipelajari! Asyik!

6. Cukup istirahat, makan dan bermain.
Semuanya dilakukan secara berimbang. Setelah pulang sekolah, kita sering ingin cepat-cepat bermain dan melupakan segala hal penting lainnya, contohnya makan dan istirahat. Padahal setelah seharian di sekolah, tak terasa badan kita membutuhkan masukan energi tambahan yang bisa didapatkan dari istirahat dan makanan yang kita makan. Oleh karenanya kita harus dapat membagi waktu untuk makan, istirahat dan bermain. Kalau semuanya dilakukan dengan baik, badan jadi segar setiap hari! Jadi tidak sering mengantuk di kelas!

7. Banyak berlatih pelajaran yang kurang disuka.
Apabila kamu tidak menyenangi suatu mata pelajaran, contohnya matematika, maka banyak-banyaklah berlatih, mengikuti kursus atau belajar berkelompok dengan teman. Sehabis belajar bisa bermain dan menambah teman baru di tempat kursus. Selain itu, siapa tahu dari kurang menyukai matematika, kalian malahan menyukainya.

8. Ikutilah kegiatan ektrakurikuler yang kamu senangi.
Cari tahu kegiatan apa yang cocok dan kamu suka. Contohnya apabila kalian suka pelajaran tae kwon do, cobalah untuk mengikuti kursus dari kegiatan tersebut, sehingga selain belajar pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah, kalian juga dapat mendapatkan pelajaran tambahan di luar sekolah.


9. Cari seorang pembimbing yang baik.
Orangtua adalah pembimbing yang terbaik selain guru. Apabila ada yang kurang jelas dari keterangan guru di sekolah, kalian dapat menanyakan hal tersebut kepada orang tua. Selain itu, kalian juga dapat belajar dari teman yang berprestasi.

10. Jangan suka mencontek teman.
Kalau mencontek, kamu bisa bodoh karena tidak berpikir sendiri. Lagipula belum tentu, teman yang kamu contek itu menjawab pertanyaan dengan benar. Belum lagi kalau ketahuan guru dan teman lain, malu kan? Kalau kamu rajin belajar, pasti bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar sehingga ulangan dapat nilai baik.
Bergabunglah bersama SPaCe (Smart Private Center) dan hubungi kami segera di 0897 6012 356 / 0856 6965 2876 (Hotline)

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 12 Juli 2012

LES PRIVAT SEBAGAI SOLUSI PENGEMBANGAN INDIVIDU

Oleh: SPaCe (Smart Private Center)


Les Privat | Kursus Privat | Les Privat | Kursus Private

Les Privat (private tutoring) merupakan sebuah alternatif bentuk pengembangan individu di era pendidikan saat ini yang sarat dengan kompetisi yang ketat. Fenomena les privat yang marak saat ini, bukan terjadi secara kebetulan, metode belajar les privat sudah hadir sejak dahulu. Di kala seorang siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran di sekolah, seorang guru yang baik biasanya akan menawarkan bantuan untuk membimbing siswa tersebut secara lebih personal yang dapat dilakukan di rumah atau di sekolah. Contoh lain dari les privat adalah seorang senior yang lebih menguasai materi tertentu memberikan bimbingan secara personal kepada seorang junior untuk memahami materi tersebut. Hanya saja terdapat perbedaan mendasar antara bimbingan belajar yang dilakukan oleh guru atau senior tersebut dan lembaga les privat yang profesional, yakni: program les privat yang dilakukan oleh lembaga les privat yang profesional cenderung lebih sistematis, terprogram, terukur dan berkelanjutan. Salah satu contoh adalah program les privat yang diselenggarakan oleh SPaCe.

Les Privat sebenarnya menerapkan konsep dasar Psikologi yang memandang bahwa individu sebagai entitas yang unik. Setiap individu juga memiliki potensi tersendiri berdasarkan kecerdasan, minat, bakat, dan kepribadiannya masing-masing. Hal ini menyebabkan individu yang satu dengan individu yang lain dapat saja berbeda dalam menerima, mengolah, menginterpretasikan dan menampilkan respons terhadap materi pelajaran yang diberikan. Hal ini yang tidak dapat diintervensi jika dilakukan dengan metode pembelajaran klasik seperti yang dilakukan di dalam kelas. Seseorang tutor yang mengajar 40 siswa di dalam sebuah kelas tidak mungkin dapat mengintervensi setiap perbedaan individu yang ada sehingga dapat dipastikan tidak semua siswa akan mendapatkan hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu, les privat menjadi sangat dibutuhkan sebagai additional program bagi siswa atau mahasiswa untuk memahami materi pelajaran yang diperoleh di sekolah atau universitas sehingga menunjang keberhasilan proses pendidikannya.

Keberhasilan proses belajar melalui metode les privat memang sudah tidak diragukan lagi, karena berdasarkan statistik, sebagian besar siswa atau mahasiswa yang memiliki personal tutors  yang membimbingnya untuk dapat memahami materi pelajaran di sekolah atau universitas akan cenderung lebih berprestasi dalam belajar. Meskipun demikian, ada beberapa variabel yang juga perlu diperhatikan dalam menunjang efektifitas proses belajar lewat metode les privat, antara lain: motivasi individu, kualitas pengajar, dukungan dari keluarga, tempat belajar, dan materi pelajaran.
1. Motivasi Individu
Dari kelima variabel yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar melalui metode les privat, faktor motivasi individu menjadi sangat penting, Artinya siswa harus menyadari bahwa pemahaman materi dan prestasi belajar yang adalah sesuatu yang dibutuhkannya.
2. Kualitas Pengajar
Kualitas pengajar juga sangat menentukan. Pengajar yang berkualitas adalah pengajar yang menguasai materi pelajaran, memahami potensi siswanya, mampu berkomunikasi dengan siswanya dan mampu menjadi motivator bagi siswanya.
3. Dukungan Keluarga
Ada banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa peran keluarga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, orang tua wajib memberikan perhatian yang cukup dalam proses belajar siswa.

4. Tempat Belajar

Tempat belajar menjadi variabel yang juga penting untuk dipertimbangkan. Tempat belajar yang menunjang keberhasilan proses belajar adalah tempat belajar yang bersih, rapih, jauh dari kebisingan, dan memiliki space yang cukup.
5. Materi Belajar
Materi belajar sebaiknya disiapkan oleh pengajar dan siswa terlebih dahulu sebelum memulai proses belajar. Materi belajar yang perlu disiapkan pengajar adalah dasar teori dan contoh-contoh soal dan pengembangan pembahasan materinya. Hal ini juga disesuaikan dengan jenis bidang studi yang diberikan. Misalkan bidang studi Matematika tentu aja pola pengajarannya berbeda dengan Bahasa Indonesia atau Sejarah.

Selain pengajar, siswa juga perlu menyiapkan materi belajar sebelum memulai proses belajar, khususnya materi belajar yang memang dibutuhkannya berdasarkan kurikulum sekolah. Seringkali output proses belajar kurang dirasakan oleh siswa karena bahasan materi yang diberikan oleh pengajar (umumnya terjadi di lembaga bimbingan belajar yang menggunakan metode kelas) tidak sesuai dengan apa yang diberikan oleh guru di sekolah.
Semoga Bermanfaat :)

Bergabunglah bersama SPaCe (Smart Private Center) dan hubungi kami segera di 0897 6012 356 / 0856 6965 2876 (Hotline)

[+/-] Selengkapnya...

Tips agar anak senang membaca

1.Buatlah daftar buku-buku yang dapat Anda baca bersama dengan anak, dan lihatlah seberapa banyak mereka membaca. Apakah itu dua halaman ataupun 200 halaman, catatlah kemajuannya.
2.Pastikan bahwa anak-anak dapat menjangkau buku-buku yang ada di rumah dengan mudah. Jika buku cerita “Dr Seuss” lebih dekat daripada Digital Video Recorder (DVR), maka anak-anak akan lebih mungkin menggapainya daripada nonton video.
3.Jadilah contoh dengan membaca sendiri. Anak-anak pasti akan segera mengikuti.
4.Bukan hanya buku yang dapat dibaca. Seperti halnya Anda suka membaca majalah, ajarkan hal yang sama pada anak-anak untuk membaca apa pun yang mereka suka seperti komik, bahkan buku petunjuk game pun bisa membuat mereka suka membaca.
5.Radio bukan satu-satunya yang dapat anda dengarkan. Mintalah pada anak-anak untuk membaca keras-keras, sehingga Anda bisa mendengarkan. Jadi Anda dapat mengetahui kemajuan yang mereka capai dan mengetahui kesulitan yang mungkin mereka hadapi.
6.Untuk acara-acara khusus, berikan hadiah buku untuk anak anda dengan bungkus yang menarik.

7.Anak-anak belajar membaca pada kecepatan yang berbeda. Berikan mereka waktu untuk membaca, dan tidak perlu memberi target per halaman. 8.Tinggalkan buku disamping tempat tidur anak-anak. Jika anda menganjurkan mereka agar membaca beberapa menit setiap malam sebelum tidur, maka mereka akan menjadi rajin membaca buku tanpa kenal waktu. Akhirnya Anda juga akan diminta membacakan buku dengan suara keras pada mereka. Setelah semuanya itu, apa yang lebih baik selain cerita sebelum tidur?
9.Saat liburan sekolah, tetap anjurkan anak-anak untuk membaca secara teratur. Hal ini akan membuat mereka lebih pandai saat kembali ke sekolah. Daripada melihat anak-anak bertengkar, lebih baik bersantai sambil membaca.
10.Semua anak-anak senang berpetualangan. Buatlah petualangan kecil saat pergi ke perpustakaan atau ke toko buku. Hal ini akan sangat menyenangkan mereka sehingga membuat mereka terus ingin pergi ke sana.

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 19 Januari 2012

Power Teaching


Power Teaching adalah sebuah metode belajar yang dikembangkan oleh negara-negara barat. Metode ini cukup menarik, karena mampu meningkatkan atensi dan konsentrasi siswa. Untuk itu metode belajar ini layak untuk di adopsi oleh para guru di Indonesia.
Adapun langkah-langkah kegiatan metode belajar Power teaching adalah sebagai berikut :
Langkah pertama disebut dengan “Class- Yess”. Pada tahap ini guru mengarahkan perhatian siswa pada kegiatan pemebeajaran dengan mengucap kata “ class “ dengan intonasi tertentu. Siswa menjawa ucapan dengan kata “ Yess” dengan intonasi kata yang sama dengan intonasi guru.
Langkah kedua disebut dengan “Micro Lecture”. Pada langkah ini guru menyampaikan bahan ajar dalam waktu kurang dari 30 detik. Siswa memperhatikan dengan seksama penjelasan guru. Guru menuliskan point-poin yang dirasa perlu di papan tulis.
Langkah ketiga disebut dengan “Teach-Oke”. Setelah guru melakukan “ micro lecture “ guru mengucapkan kata “Teach” jika perlu dengan tepuk tanga , siswa menjawab dengan kata “ Oke “.Setelah menjawab “Oke” siswa mengulang apa yang telah disampaikan guru secara berhadap-hadapan kepada siswa lain.
Lagkah keempat disebut dengan “Score board “. Pada langkah ini guru melakukan penilaian terhadap kienerja siswa pada papan tulis yang telah dibuat tabel dengan dua kolam dimana kolom pertama bagian atas diberi ikon wajah orang tersenyum sedang kolom kedua bagian di atas diberi ikon gambar orang sedih.Kolom wajah gembira diberi skor satu jika guru menilai kinerja siswa dianggap sesuai dengan harapan guru. Sedang kolom kedua jika kinerja siswa dianggap kurang baik.
Langkah kelima disebut dengan “Hand and eyes “. Setelah guru memeberi penilaian siswa menanggapi sesuai dengan nilai yang diperolehnya. Jika ia mendapat penilaian wajah tersenyum siswa meneriakkan kata “ Oh yeah “ jika perlu dengan tepukkan tangan. Jika mendapat nilai wajah sedih siswa pura-pura menangis dengan mengusap-usap mata dengan tangan.



Dari angkah satu sampai dengan langkah kelima diulang-ulang sesuai dengan materi yang ingin disampaikan.
Langkah keenam disebut dengan komprehension Chek. Pada tahap ini siswa diminta mengulang secara lesan semua materi yang telah disampaikan oleh guru. Pada saat siswa mengulang materi yang diajarkan, guru berkeliling melakukan checking terhadap kegiatan siswa.
Metode ini tampaknya sangat tepat untuk mengajarkan materi-materi berkaitan dengan pemahaman konsep. Dengan pengucapan berulang pada saat “teach-Oke “ Siswa diharapkan lebih memahami konsep yang diajarkan. Dengan metode ini juga membangun komunikasi antar siswa.Antusiasme dan konsentrasi dibangun dengan menggunakan metode ini.
Yang menjadi permasalahan adalah apakah metode ini cocok untuk semua jenjang kelas. Pada jenjang kelas yang lebih tinggi materi yang dajarkan banyak menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi. Metode juga menuntut adanya kesadaran partisipasi peserta didik yang sangat tinggi. Karena ada unsur bermain pada metode ini juga berpotensi kelas menjadi gaduh dan memancing siswa untuk bermain-main. Ada kecenderungan metode ini hanya tepat untuk siswa pada jenjang tingkat dasar.Kelemahan metode ini lebih menonjolkan aktifitas lesan semata.
Khusus pada mata pelajaran matematika tampaknya metode ini kurang tepat untuk materi penerapan dan pemecahan masalah mengingat pada materi tersebut tidak cukup dengan aktifitas lesan semata. Berkaitan dengan materi pemahaman konsep yang mengajarkan simbol-simbol dan fakta tentunya metode ini kurang tepat.
Tampaknya tepat adanya ungkapan yang menyatakan tidak ada metode atau model belajar yang paling bagus. Karena sebuah metode atau model pembelajaran hanya tepat pada materi dan kondisi tertentu yang mendukung terlaksananya metode tersebut. Sebagai sebuah metode belajar “Power Teaching “ perlu untuk dicoba untuk dikembangkan di Indonesia. Power Teaching tampaknya akan menambah perbendaharaan metode pembelajaran yang sudah ada di Indonesia.

[+/-] Selengkapnya...

Quantum Learning

Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme). Quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria.

Ia melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar, yang menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif bermunculan.

Prinsip suggestology hampir mirip dengan proses accelerated learning, pemercepatan belajar: yakni, proses belajar yang memungkinkan siswa belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan. Suasana belajar yang efektif diciptakan melalui campuran antara lain unsur-unsur hiburan, permainan, cara berpikir positif, dan emosi yang sehat.


“Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian siswa dan guru. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan posistif – faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang (Bobby De Porter dan Hernacki, 1992)

Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka mengamsalkan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan mengutip rumus klasik E = mc2, mereka alihkan ihwal energi itu ke dalam analogi tubuh manusia yang “secara fisik adalah materi”. “Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya”. Pada kaitan inilah, quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode tertentu. Termasuk konsep-konsep kunci dari teori dan strategi belajar, seperti: teori otak kanan/kiri, teori otak triune (3 in 1), pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan ganda, pendidikan holistik, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan simbol (metaphoric learning), simulasi/permainan.

Beberapa hal yang penting dicatat dalam quantum learning adalah sebagai berikut. Para siswa dikenali tentang “kekuatan pikiran” yang tak terbatas. Ditegaskan bahwa otak manusia mempunyai potensi yang sama dengan yang dimilliki oleh Albert Einstein. Selain itu, dipaparkan tentang bukti fisik dan ilmiah yang memerikan bagaimana proses otak itu bekerja. Melalui hasil penelitian Global Learning, dikenalkan bahwa proses belajar itu mirip bekerjanya otak seorang anak 6-7 tahun yang seperti spons menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik, dan kerumitan bahasa yang kacau dengan “cara yang menyenangkan dan bebas stres”. Bagaimana faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari lingkungan telah menciptakan kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja. Hal ini menegaskan bahwa kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan rintangan. Keyakinan untuk terus berusaha merupakan alat pendamping dan pendorong bagi keberhasilan dalam proses belajar. Setiap keberhasilan perlu diakhiri dengan “kegembiraan dan tepukan.”

Berdasarkan penjelasan mengenai apa dan bagaimana unsur-unsur dan struktur otak manusia bekerja, dibuat model pembelajaran yang dapat mendorong peningkatan kecerdasan linguistik, matematika, visual/spasial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intarpersonal, dan intuisi. Bagaimana mengembangkan fungsi motor sensorik (melalui kontak langsung dengan lingkungan), sistem emosional-kognitif (melalui bermain, meniru, dan pembacaan cerita), dan kecerdasan yang lebih tinggi (melalui perawatan yang benar dan pengondisian emosional yang sehat). Bagaimana memanfaatkan cara berpikir dua belahan otak “kiri dan kanan”. Proses berpikir otak kiri (yang bersifat logis, sekuensial, linear dan rasional), misalnya, dikenakan dengan proses pembelajaran melalui tugas-tugas teratur yang bersifat ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detil dan fakta, fonetik, serta simbolisme. Proses berpikir otak kanan (yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik), dikenakan dengan proses pembelajaran yang terkait dengan pengetahuan nonverbal (seperti perasaan dan emosi), kesadaran akan perasaan tertentu (merasakan kehadiran orang atau suatu benda), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi.

Semua itu, pada akhirnya, tertuju pada proses belajar yang menargetkan tumbuhnya “emosi positif, kekuatan otak, keberhasilan, dan kehormatan diri.” Keempat unsur ini bila digambarkan saling terkait. Dari kehormatan diri, misalnya, terdorong emosi positif yang mengembangkan kekuatan otak, dan menghasilkan keberhasilan, lalu (balik lagi) kepada penciptaan kehormatan diri.

Dari proses inilah, quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan Anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan.” Gambaran ini disandingkan dengan konsep belajar pasif yang terdiri dari: “tidak dapat melihat adanya potensi belajar, mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman belajar, membiarkan segalanya terjadi, menarik diri dari kehidupan.”

Dalam kaitan itu pula, antara lain, quantum learning mengonsep tentang “menata pentas: lingkungan belajar yang tepat.” Penataan lingkungan ditujukan kepada upaya membangun dan mempertahankan sikap positif. Sikap positif merupakan aset penting untuk belajar. Peserta didik quantum dikondisikan ke dalam lingkungan belajar yang optimal baik secara fisik maupun mental. Dengan mengatur lingkungan belajar demikian rupa, para pelajar diharapkan mendapat langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar.

Penataan lingkungan belajar ini dibagi dua yaitu: lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro ialah tempat peserta didik melakukan proses belajar (bekerja dan berkreasi). Quantum learning menekankan penataan cahaya, musik, dan desain ruang, karena semua itu dinilai mempengaruhi peserta didik dalam menerima, menyerap, dan mengolah informasi. Ini tampaknya yang menjadi kekuatan orisinalitas quantum learning. Akan tetapi, dalam kaitan pengajaran umumnya di ruang-ruang pendidikan di Indonesia, lebih baik memfokuskan perhatian kepada penataan lingkungan formal dan terstruktur seperti: meja, kursi, tempat khusus, dan tempat belajar yang teratur. Target penataannya ialah menciptakan suasana yang menimbulkan kenyamanan dan rasa santai. Keadaan santai mendorong siswa untuk dapat berkonsentrasi dengan sangat baik dan mampu belajar dengan sangat mudah. Keadaan tegang menghambat aliran darah dan proses otak bekerja serta akhirnya konsentrasi siswa.

Lingkungan makro ialah “dunia yang luas.” Peserta didik diminta untuk menciptakan ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan kekuatan pribadi, berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya. “Semakin siswa berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir mengatasi sistuasi-situasi yang menantang dan semakin mudah Anda mempelajari informasi baru,” tulis Porter. Setiap siswa diminta berhubungan secara aktif dan mendapat rangsangan baru dalam lingkungan masyarakat, agar mereka mendapat pengalaman membangun gudang penyimpanan pengertahuan pribadi. Selain itu, berinteraksi dengan masyarakat juga berarti mengambil peluang-peluang yang akan datang, dan menciptakan peluang jika tidak ada, dengan catatan terlibat aktif di dalam tiap proses interaksi tersebut (untuk belajar lebih banyak mengenai sesuatu). Pada akhirnya, interaksi ini diperlukan untuk mengenalkan siswa kepada kesiapan diri dalam melakukan perubahan. Mereka tidak boleh terbenam dengan situasi status quo yang diciptakan di dalam lingkungan mikro. Mereka diminta untuk melebarkan lingkungan belajar ke arah sesuatu yang baru. Pengalaman mendapatkan sesuatu yang baru akan memperluas “zona aman, nyaman dan merasa dihargai” dari siswa.

[+/-] Selengkapnya...

Template by : kendhin x-template.blogspot.com